Atharrazka Gelar Pasanggiri Jaipong Tiga Hari, Libatkan 230 Peserta dari Berbagai Daerah
PURWAKARTA || Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-195 Kota Purwakarta dan Hari Jadi ke-58 Kabupaten Purwakarta, Sanggar Seni dan Budaya Atharrazka menggelar Pasanggiri Jaipong yang dipusatkan di kawasan Situ Cigangsa, Desa Campakasari, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan seni budaya Sunda sekaligus mendorong pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Purwakarta.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Awalnya panitia menerima sekitar 400 pendaftar, namun karena keterbatasan waktu pelaksanaan, jumlah peserta dibatasi menjadi 230 orang yang dibagi dalam tiga hari perlombaan.
Owner Sanggar Seni dan Budaya Atharrazka, H. Sugih, mengatakan pada hari pertama terdapat sekitar 40 peserta yang tampil sejak pukul 09.30 WIB hingga sore hari.
"Awalnya peserta yang mendaftar mencapai 400 orang. Namun kami batasi menjadi 230 peserta agar pelaksanaan berjalan maksimal. Perlombaan berlangsung selama tiga hari, dan hari ini ada sekitar 40 peserta yang tampil," ujarnya.
Menurut H. Sugih, peserta tidak hanya berasal dari Purwakarta, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Subang, Karawang, Bandung, dan Bandung Barat. Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa seni tari Jaipong masih mendapat perhatian besar dari masyarakat, khususnya generasi muda.
"Mayoritas memang dari Purwakarta, tetapi ada juga dari Subang, Karawang, Bandung, hingga Bandung Barat. Kami tidak ingin mengecewakan anak-anak yang ingin ikut berkompetisi," katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporapar). Selain menjadi ajang kompetisi, prestasi para pemenang juga diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi peserta dalam dunia pendidikan.
H. Sugih menegaskan, tujuan utama penyelenggaraan Pasanggiri Jaipong adalah menjaga eksistensi budaya Sunda yang mulai tergerus perkembangan zaman, sekaligus membentuk karakter dan mental anak-anak melalui seni tari.
"Kami ingin mengembangkan kembali seni budaya tari Sunda di Purwakarta. Sekarang budaya kita mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Karena itu, pembinaan usia dini sangat penting agar anak-anak mencintai budaya daerahnya sekaligus melatih mental mereka," ungkapnya.
Menariknya, Pasanggiri Jaipong tahun ini menghadirkan sistem penilaian berbasis digital. Setiap nilai dari dewan juri langsung muncul secara otomatis setelah peserta selesai tampil sehingga proses penjurian berlangsung lebih cepat, transparan, dan objektif.
"Ini merupakan event pertama kami yang menggunakan sistem penilaian digital. Setelah peserta selesai tampil, nilainya langsung keluar sehingga tidak ada ruang untuk pilih kasih. Semua murni berdasarkan hasil penilaian juri dan bisa langsung dilihat peserta maupun pendamping," jelas H. Sugih.
Kategori yang diperlombakan meliputi Jaipong Tunggal (perorangan) dan Jaipong Rampak (kelompok) yang diikuti berbagai sanggar seni dari sejumlah daerah.
Melalui kegiatan tersebut, Sanggar Seni dan Budaya Atharrazka berharap Pasanggiri Jaipong dapat menjadi agenda budaya tahunan yang mampu melahirkan bibit-bibit penari berbakat, memperkuat pelestarian budaya Sunda, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar Situ Cigangsa. (Tedi)
Posting Komentar untuk "Atharrazka Gelar Pasanggiri Jaipong Tiga Hari, Libatkan 230 Peserta dari Berbagai Daerah"